Inilah (alm) KH. Hasan Basri Ketua MUI 1984-1990 Kakeknya FAHIRA IDRIS Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta
April 15, 2018 3633 Views

Inilah (alm) KH. Hasan Basri Ketua MUI 1984-1990 Kakeknya FAHIRA IDRIS Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta

KH Hasan Basri

Beliau dikenal sosok Yang pembawaan Nya tenang, sabar dan sangat bijak. Kemunculan beliau di TV sangat dinanti, beliau tokoh yg sangat dihormati oleh semua kalangan, termasuk pemuka agama lainnya d indonesia …
.
Namun …
Aku Tak pernah menduga sebelumnya bahwa beliau adalah kakek dari Bunda Fahira Fahmi Idris?
Cukup bangga Aku bisa mengenal seorang Fahira Idris Ketua Umum Bang Japar dan terlebih lagi dengan kekaguman beserta hormat Aku kepada Alm KH Hasan Basri, mantan ketua MUI di masa lalu …

Ini sekelumit kisah KH Hasan Basri
( Sumber : Portal Sang Pencerah )

– Pada era 1980-an, pertumbuhan bank di Indonesia begitu pesat. Di tengah pertumbuhan tersebut, mun cul kekhawatiran masyarakat Muslim dengan merebaknya praktik riba di balik besarnya bunga yang ditawarkan kepada para nasabah.

Kondisi tersebut memicu pula keprihatinan KH Hasan Basri. Melalui posisi yang strategis di MUI, tokoh kelahiran Muara Teweh, 600 km utara Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 20 Agustus 1920, ini menginisiasi seminar dengan tema “Bank tanpa Bunga”.

Sejumlah tokoh hadir dalam pertemuan bersejarah yang berlangsung di Hotel Safari Cisarua pada Agustus 1991 ini. Mulai dari pakar-pakar ekonomi, pejabat Bank Indonesia, menteri terkait, serta para ulama.

Tercetuslah solusi dengan munculnya kemufakatan tentang bank syariah. Finalisasi dari seminar itu lahirlah Bank Muamalat sebagai alternatif. Ketika itu, Bank Muamalat merupakan satu-satunya bank yang tidak menggunakan sistem bunga.

Sejak muda, potensi keulamaan telah terpancar dari dirinya. Hasan sangat mencintai dunia pendidikan. Ia pernah menjadi guru bantu ketika berusia belia dan bahkan pernah mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah di Marabahan, Kalimantan Selatan.

Bersama istrinya, dia menjadi pengajar di madrasah tersebut. Namun, kecintaan mengajar itu harus pupus sementara karena pada 1944, sekolahnya mesti ditutup karena situasi perang sudah merambat ke Kalimantan Selatan.

Meski sekolahnya ditutup, tak membuat aktivitas dakwah Kiai Hasan terhenti. Ia tetap bergerak dan aktif di dunia pen didikan. Kali ini, ia mendirikan Persatuan Guru Agama Islam. Organisasi yang memetakan masalah-masalah guru agama Islam. Melalui wadah inilah, ia mendapat kepercayaan umat untuk bersyiar di berbagai forum.

Politik
Sejarah juga mencatat kiprah putra dari pasangan Muhammad Darun dan Siti Fatmah ini di kancah nasional. Tak hanya pada bidang pendidikan dan keagamaan, tetapi juga dunia politik. Ini tak terlepas dari sepak terjangnya mengabdikan diri kepada umat. Ketika Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) dibentuk, Hasan Basri diangkat menjadi anggota DPR mewakili provinsinya.

Ia pun hijrah ke Jakarta membawa serta keluarganya. Di Jakarta, Kiai Hasan aktif dalam Partai Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) yang diikrarkan sebagai satu-satunya partai politik Islam. Namun, partai ini dibubarkan pemerintah pada 1960. Hasan Basri sebagai anggota Pimpinan Pusat Partai Masyumi kehilangan kendaraan politik.

Bahkan, dunia internasional mengakui ketokohan sosok yang mengidolakan Buya Hamka ini. Terbukti, pada pertemuan Forum Dewan Kerja Sama Negarawan dan Agamawan yang dihadiri para agamawan dan cendekiawan dunia pada 17 Februari 1987 di Roma, Italia, ia terpilih mewakili ulama Indonesia. Dalam pandangan forum yang bermarkas di New York, Amerika Serikat, itu Kiai Hasan dianggap figur representatif.

Mengutip buku KH Hasan Basri 70 Hasan, undangan tersebut datang atas rekomendasi politikus Jerman, Helmut Schmidt, pada 1986 ketika berkunjung ke Tanah Air. Pemerintah Indonesia semula tak mengetahui rencana tersebut. Dalam forum internasional itu, Kiai Hasan menekankan pentingnya kesalehan umara dan ulama sebagai penunjang stabilitas negara. “Baik buruknya manusia tergantung bagus tidaknya kedua golongan itu,” tuturnya.

Mengidolakan Hamka
Kiai Hasan mengaku sangat terinspirasi dengan Buya Hamka. Perjumpaannya dengan Hamka ketika menempuh pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah di Banjarmasin begitu membekas dalam ingatannya.

Sosok yang yatim sejak umur tiga tahun ini terkesima dengan gaya ceramah dan pidato pentolan Muhammadiyah asal Sumatra Utara itu. Inspirasi yang ia dapatkan menjadi acuan dan bekal berceramahnya pada kemudian hari.

Meski tumbuh sebagai anak yatim, Kiai Hasan tetap mendapatkan pendidikan keagamaan dan kasih sayang yang kuat. Didikan langsung sang ibu membentuk pribadinya sebagai pemuda religius dan berkarakter kuat.

Figur lain yang berpengaruh besar dalam tumbuh kembangnya sebagai pribadi tangguh adalah Haji Abdullah, kakek dari jalur sang ibu. Sang kakek yang kala itu berprofesi sebagai staf Landraad (sekarang pengadilan negeri) di Banjarmasin bisa menyekolahkan Hasan bersama tiga saudaranya.

Selama di Madrasah Diniyah Awaliyah Islamiyah (DAI), ia mendapatkan pelajaran Alquran, menulis, dan membaca Arab. Ia terkenal murid yang cerdas dan selalu menjadi yang terbaik di kelasnya. Kecerdasan dan kegemaran membaca Alquran membuat Hasan disayang guru-gurunya.

Seusai lulus MTs, Hasan melanjutkan sekolah di Pulau Jawa, yaitu di Sekolah Zu’ama Muhammadiyah Yogyakarta dari 1938 hingga 1941. Sesudah tamat, ia menikah pada usianya yang ke-21 dengan Nurhani. Sejak itulah, Kiai Hasan mulai memantapkan diri berjuang di jalan dakwah hingga ajal menjemputnya pada 8 November 1998. (sp/rol)

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply