Warning: The magic method Visual_Form_Builder::__wakeup() must have public visibility in /home/anandap1/bangjapar.org/wp-content/plugins/visual-form-builder/visual-form-builder.php on line 68

Warning: The magic method Visual_Form_Builder_Form_Display::__wakeup() must have public visibility in /home/anandap1/bangjapar.org/wp-content/plugins/visual-form-builder/public/class-form-display.php on line 35
KETUM Bang Japar ucapkan terima kasih pak Gubernur, Becak ada lagi di DKI Jakarta - Bang Japar | Kebangkitan Jawara dan Pengacara

KETUM Bang Japar ucapkan terima kasih pak Gubernur, Becak ada lagi di DKI Jakarta

Jakarta – Senator DKI Jakarta Ibu Hj. Fahira Idris mengungkapkan, setelah menunggu sejak 2012, warga DKI Jakarta yang tinggal di perkampungan dan warga yang masih setia berprofesi sebagai pengayuh becak di perkampungan, bisa bernapas lega. Selama ini, kehadiran mereka yang selama ini distigmakan sebagai sumber masalah pembangunan kota yang modern.

“Stigma itu, kini dihapus oleh Gubernur Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno. Warga kampung kini menjadi bagian dari solusi mengubah Jakarta menjadi lebih baik,” ucap Fahira.

Fahira mengatakan, rencana penataan kampung-kampung di Jakarta dan membolehkan becak beroperasi di kawasan tertentu, sebenarnya sudah mulai bergulir di awal-awal Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Namun, sayangnya rencana tersebut tidak kunjung terdengar saat tampuk kepemimpinan beralih ke Ahok.

Hal itu dikarenakan, Jokowi terpilih menjadi Presiden. Padahal, penataan kampung dan becak sudah menjadi kontrak politik pasangan Jokowi-Ahok saat kampanye Pilkada DKI Jakarta 2012. “Kita patut bersyukur ada pemimpin yang sepenuh hati mau melunasi janji-janji pemimpin terdahulu,” kata Ketua Umum Bang Japar (Kebangkitan Jawara dan Pengacara).

Menurut Fahira, kontrak politik sebelumnya yang tidak ditunaikan biarkan menjadi catatan sejarah. Saatnya warga Jakarta terutama mereka yang di kampung-kampung kota, mempersiapkan diri menjadi bagian penting dari proses pembangunan di DKI Jakarta. “Warga Jakarta saat ini mulai dikembalikan khittahnya sebagai subyek pembangunan,” ucap Fahira.

Selain itu, penataan becak di kampung-kampung di mana becak masih beroperasi, yang menjadi kontrak politik gubernur dan wakil gubernur terdahulu, juga hendak ditunaikan Anies-Sandi. Namun, anehnya masih ada sebagian masyarakat bahkan akademisi dan pengamat yang gagal paham terhadap rencana penataan becak ini.

Mereka, papar Fahira, menganggap kebijakan tersebut akan membanjiri jalan-jalan protokol di Jakarta dengan becak. Menurutnya, mereka tidak memahami persoalan yang sebetulnya tengah terjadi. Sebab ada banyak warga yang menggantungkan nafkahnya dengan mengayuh becak.

“Tidak paham isu tapi berkomentar, jadi ya gagal paham. Sesekali jalan-jalanlah ke Teluk Gong, ke Koja, Cilincing, atau ke Tanjung Priok, becak masih ada bahkan ada ribuan warga yang menggantungkan nafkahnya sebagai pengayuh becak,” tandasnya.

“Becak masih dibutuhkan setidaknya bagi emak-emak yang hendak dan pulang dari pasar. Mereka mencari nafkah halal sehinga harus dimudahkan. Tidak boleh lagi abang-abang becak, tiap hari harus kucing-kucingan dengan aparat,” ujarnya.

Fahira bersyukur ada pemimpin yang sepenuh hati mau melunasi janji-janji pemimpin terdahulu. Kontrak politik menata kampung dan becak yang tidak ditunaikan pemimpin terdahulu biarkan menjadi catatan sejarah. Saatnya warga Jakarta terutama mereka yang di kampung-kampung kota mempersiapkan diri menjadi bagian penting dari proses pembangunan di DKI Jakarta. Warga Jakarta saat ini mulai dikembalikan “khittahnya” sebagai subjek pembangunan.

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *